Ikan Salmon Mahal Diprotes, Menteri Susi: Ganti Tongkol, Kakap…

Share

Suasana kuliah umum Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di depan 4 ribuan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung, Jumat 18 Agustus 2017 langsung riuh saat sesi tanya jawab.

Sebelas orang yang ditunjuk maju, berbaris di depan mikropon untuk bergantian bertanya pada Menteri Susi. Ramanindya Saputri dari Fakultas Teknik Sipil dapat giliran pertama. “Kalau makan ikan, kaya salmon, masih mahal. Padahal stok ikan dibuat meningkat, kenapa harga ikan gak turun-turun?” kata dia, Jumat, 18 Agustus 2017.

Moderator kuliah umum sengaja membatasi satu pertanyaan satu orang. Tiga mahasiswa dapat giliran pertama untuk langsung dijawab Menteri Susi. Ahmad Safik Jufri, dari Sekolah Ilmu Dan Teknologi Hayati, dapat giliran kedua bertanya. “Apa kegagalan Ibu yang paling besar, dan bagaimana cara mengatasi kegagalan itu?” tanya dia.

Giliran terakhir pertanyaan dari  Ivandiari Putra dari Fakultas Informatika. “Apa inovasi teknologi perikanan yang akan digunakan?” kata dia.

Lalu Menteri Susi menjawab. “Harga ikan kalau melihat data statistiknya yang dirilis BPS, sebetulnya ikan satu-satunya yang menyumbangkan deflasi dalam dua tahun berturut-turut,” kata dia, Jumat, 18 Agustus 2017.

Susi mengatakan, harga ikan paling mahal masih lebih rendah daripada harga daging sapi, atau ayam. “Ikan lebih sehat dibanding daging karena kolesterolnya gak jahat. Dan daging juga 80 persen impor, berarti menghabiskan devisa negara. Sebaiknya kurangi makan daging dan tambah makan ikan,” kata dia.

Soal harga ikan salmon yang tinggi, Susi malah merekomendasikan ikan lain. “Salmon tidak bagus. Makan tongkol lebih enak. Salmon itu ikan ternak yang pakanya gak comfy untuk kesehatan. Mending tongkol, kapak, mujaer yang produksi dalam negeri,” kata dia.

“Tentang kegagalan, saya orang yang tidak pernah larut dalam ‘missery’, dalam kesulitan, dalam kegagalan. Kalau ‘you spend time’ pikir gagal, sedih, ‘is bad spirit’. Tenaga kita juga hilang, mood jadi jelek. Ya mungkin saya gagal misalnya tidak pernah menyelesaikan sekolah, tapi saya menggantinya dengan kerja lebih keras supaya bisa lebih berhasil dari yang sekolah,” kata dia.

Susi mengaku, bukan orang yang memikirkan tentang hari ini, tapi lebih banyak berpikir ke depan.

Menjawab pertanyaan ketiga, Susi mencontohkan soal inovasi di ikan tangkap. “’The problem is technology is destroyinbg natural resources’. Sekarang ini keseimbangan antara eksploitasi maksimum dengan menjaga frame sustainibility. Teknologi yang lebih line. Jadi kalau ada lumba-lumba bisa keluar, kalau ada kura-kura bisa keluar. Dan ‘high-techt’ itu tidak selalu ‘be massif’, karena sekarang penemuan penelitian mengarah pada ‘what is technology’ jaga ‘sustainibility[ yang ada,” tutur dia.

Moderator kuliah umum sayangnya menyetop sesi tanya jawab itu karena sudah di penghujung waktu.

Menteri Susi menambahkan, biaya penenggalaman kapal yang hanya menghabiskan dana Rp 160 miliar tapi berimbas besar. Dia mengklaim, efeknya diantaranya ekspor ikan Indonesia melonjak 5 persen. “Nelayan sekrang menangkap ikan lebih untung, tidak perlu pergi jauh-jauh. Itu hal yang tidak terlihat,” kata dia.

Berita Pilihan Lainnya