Home Lifestyle Lima Kekeliruan Cara Menjelaskan Barang Dagangan Online Yang Harus Dijauhi

Lima Kekeliruan Cara Menjelaskan Barang Dagangan Online Yang Harus Dijauhi

98
0

Siapa sih yang tidak kenal dengan penjualan produk-produk lewat internet pada zaman sekarang ini? Produk dagangan yang ditawarkan kepada para pelanggan melalui layanan online ini, sudah begitu marak dipraktekkan, bahkan telah menjadi gaya hidup yang tidak hanya menjangkiti warga perkotaan, akan tetapi juga masyarakat pedesaan.

Beberapa toko ritel online kelas kakap mendadak tumbuh menjamur pada tahun-tahun belakangan ini. Di satu sisi, para penjual pun dituntut untuk lebih jeli mengamati situasi di lapangan dan tentunya keinginan para pembeli. Maklum, penjualan secara jarak jauh ini akan lebih mengundang konflik dan sengketa antara penjual dan pembeli jika barang yang dibeli tersebut tidak sama persis yang dinarasikan.

Tentunya pendeskripsian yang benar dan terarah akan mampu meyakinkan para pembeli untuk membeli produk-produk dagangan tersebut.

Nah, bagi para penjual online, ada sejumlah hal yang perlu dijauhi saat sedang mendeskripsikan barang dagangannya.

Yang pertama, ketidakjelasan target pelanggan

Penentuan target menjadi unsur penting barang tersebut akan memperoleh kepercayaan dari calon pembeli. Apakah barang itu untuk anak-anak atau bayikah, ataukah kalangan remaja, perlu dipaparkan secara jelas dan lugas. Selain itu, kata-kata dalam narasi suatu produk juga harus dapat membangun keakraban meskipun sama sekali kedua belah pihak belum pernah sekalipun bertatap muka.   

Yang Kedua, memakai struktur kalimat yang sukar dimengerti

Tentunya mengetahui dan menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan pada pendeskripsian harus diutamakan untuk menjauhkan kebingungan calon pembeli. Penulisan deskripsi atau narasi yang memperhatikan kaidah-kaidah Ejaan Yang Disempurnakan akan membuktikan bahwa para penjual merupakan orang-orang yang kredibel dan serius dalam berbisnis.

Yang ketiga, image yang terlalu diedit alias mengandung unsur kebohongan

Mengedit bukanlah perbuatan yang tercela jika dilakukan berdasarkan asas etika dan kepantasan. Tapi jika hasil editan tersebut malah akan menyembunyikan produk asli yang hendak dijual, maka sebaiknya hal tersebut harus dihindari. Bukan apa-apa, calon pembeli zaman sekarang sudah mengerti mana gambar asli dan mana gambar editan, apalagi editan tersebut dilakukan oleh para amatir. Sekali pedagang itu diketahui berbohong dan menipu, maka review yang diberikan oleh pembeli pastinya negatif yang akan berujung kepada kehancuran produk dagangannya, alias tidak laku.

Yang Keempat, tidak membuat Video untuk mendukung pendeskripsian

Rupanya, masyarakat akan bertambah mengerti jika narasi dan deskripsi untuk produk online juga didukung sebuah video klip yang menjelaskan produk tersebut, cara pemakaiannya, dan lain-lain. Pembuatan klip video seperti dirasa cukup efektif untuk menarik minat calon pembeli.

Yang Kelima, tidak memakai kata-kata membujuk

Mayoritas kalimat deskriptif pada suatu produk hanya terfokus kepada penjelasan barang produk beserta spesifikasinya secara detail saja. Tidak salah memang, hanya saja para pembeli pun perlu dirayu oleh kalimat yang mampu menyihir mereka. Tidak perlu bertele-tele, tapi cukup menggunakan kata-kata rayuan yang memiliki nilai emosional dan sentimentil. Pepatah lama selalu mengatakan, pembeli adalah raja, maka perlakukanlah mereka seperti raja dan fahamilah secara mendetail keinginan mereka.